TABLOIDSINARTANI.COM, Banten—Bangsa Indonesia kaya terhadap kearifan lokal dalam ketahanan pangan. Salah satu tradisi yang masih terjaga adalah kearifan masyarakat adat banten dalam menyimpan hasil panen padi mereka.
Namanya Leuit. Bangunan yang digunakan untuk menyimpan gabah tersebut masih banyak terdapat di daerah pedesaan Sunda dan Baduy yang termasuk Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Ada pantangan yang masih dipatuhi sebagian besar masyarakat adat Banten. Mereka tidak boleh menjual beras hasil panen, tapi harus disimpan dalam leuit dan dikonsumsi sendiri.
Kabupaten Lebak adalah salah satu daerah penghasil beras terbesar di Banten. Berdasarkan data Dinas Pertanian Provinsi Banten, Lebak menduduki peringkat kelima penghasil beras. Kabupaten yang dipimpin Bupati Iti Jayabaya ini memiliki luas areal lahan padi sebanyak 79.843 hektar (ha) dengan hasil produksi 379.079 ton.
Ada hal menarik ketika kita berkunjung ke pedalaman Lebak, terutama Desa Citorek, Kecamatan Cibeber. Desa yang terkenal dengan wisata baru “Negeri di atas awan”, selain keindahan alamnya yang perawan, desa ini juga temasuk penghasil padi di Kabupaten Lebak.
Berjarak 120 kilometer dari Jakarta dan berbatasan langsung dengan kabupaten Bogor dan Sukabumi ini memiliki kawasan desa adat dengan sebutan wewengkon adat kasepuhan Citorek. Kawasan adat ini meliputi 5 dusun dalam satu desa citorek yang mayoritas warganya menjadi petani padi.
Memasuki musim panen padi Februari-Maret ini disepanjang jalan menuju desa tersebut penuh dengan padi yang sedang di jemur dengan cara tradisonal yaitu mengandalkan matahari. Padi yang sudah dijemur masyarakat setempat tidak langsung digiling, apalagi dijual.
Mereka mempunyai tempat penyimpanan yang sudah ada secara turun temurun yaitu “leuit”. Kearifan lokal inilah yang menyerap gabah hasil petani desa tersebut hingga mereka tidak terpengaruh dengan gonjang ganjing beras impor. Masyarakat memproduksi, serap dan konsumsi sendiri.
Leuit atau ditempat lain disebut lumbung inilah yang menyerap dan menyimpan stok pangan mereka selama 1 tahun sampai panen tahun berikut. Artinya, secara lokal masyarakat Banten telah swasembada pangan.
Padi atau gabah akan dikeluarkan secara berkala untuk digiling secara tradisional. Jumlahnya hanya untuk konsumsi dan dijual untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Iwan salah seorang petani Desa Citorek Kidul mengatakan, petani hanya menanam padi satu kali setahun. Setelah itu mereka gunakan sawahnya untuk budidaya perikanan air tawar.
“Hasil panen padi itu cukup untuk dikonsumsi selama setahun, karena rata-rata petani memiliki lahan sendiri dan cukup luas, sehingga hasil panen bisa dinikmati maksimal,” tuturnya.
Sekarang ini, warga juga mulai menikmati berkah lain disamping bertani yaitu potensi wisata negeri diatas awan Citorek. Walaupun di musim pandemi, meski kunjungan wisatawan cenderung turun, namun pada Sabtu dan Minggu banyak wisatawan dari Jabodetabek yang penasaran ingin melihat gumpalan awan indah di puncak gunung luhur itu.
—
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/